nickmatulhuda blog

have a look at www.nickmatulhuda.com, and have a say here

Travel-photographer And The So Called Vacation

with 7 comments

Sharing is caring.. unless you have STD. ūüėÄ

Anyway, people… meet Fadli and Hafidz. Both are –currently- young and –hopefully in long term– promising Indonesian photographers, specialized in travel photography.

Me, Fadli, Hafidz and Safir Makki from Jakarta Globe, decided to meet up for a coffee at one afternoon, and wind up discussing about their expertise. Errr… actually, Safir and I were nothing but a listener, since we were mostly just awed by their intense conversation.

I recorded it in a video, but since they’re not really pretty, I dont think watching them talking actually have any use. hehe.. You can, however, just read the transcript of their conversation. I wont be bother to translate everything in english, since google translate has already been invented. So, if you really want to know what they were talking about.. you need to figure it out yourself. But trust me, it all worth it.

Who are they?

Fadli is both Padang and Jakarta based photographer. He was a photographer for Tempo magazine (creating awesome portraits), before a magazine sponsored by the biggest airlines here, Garuda Indonesia, hire him to cover 12 travel destinations for them. His latest project was Taipei.

Hafidz¬†is a National Geographic Indonesia / National Geographic Traveler photographer based in Jakarta. And for a brand like National Geographic to actually want to make him their photographer, it must be of course, for a very damn good reason. From how I see it, he’s a hardworking photographer who’s very keen to learn!

[All photos courtesy of Muhammad Fadli. Check his website to see more of his work. And enjoy this Taipei coverage in April edition Garuda Indonesia in-fligt magazine]

**What is the first thing you do before you go on assignment like Taipei, one of your twelve destinations?

Pertama riset. Biasanya lihat di koleksi Getty Images karena mereka yang paling banyak database fotonya dan variatif.
Setuju! Sepertinya Getty memang yang paling pas. Dalam artian, stylenya tidak terlalu kaku kantor berita, walaupun mereka news-stock agency.
Selain Getty, saya juga lihat foto-foto di Flickr. Menggunakan search engine di Google Images juga bisa, bedanya, di Flickr kita bisa lihat karya-karya foto yang diupload oleh fotografer profesional juga. 
Tapi yang perlu diperhatikan saat meriset, jangan menggunakan kata kunci yang terlalu umum, seperti “Taipei-Flickr”, dimana hasilnya bisa terlalu acak, karena ada terlalu banyak foto yang bisa masuk dalam kategori ini.
Coba cari dengan¬†kata kunci “nama lokasi” dan “fiveprime”, yaitu situs yang mendata foto-foto terbaik di Flickr.
Foto-foto yang menjadi hasil riset tersebut, gunanya untuk jadi panduan kita, untuk tidak lagi hanya memotret seperti itu di tempat tujuan kita nanti, tapi justru nanti pada saat memotret harus bisa berbeda dari yang sudah ada di database situs itu. Nanti kita coba terapkan pendekatan memotret detail, atau mencari sudut-sudut pemotretan yang berbeda. 
Tapi perlu diingat, dalam memotret sejumlah obyek foto iconic, ada yang sifatnya mandatory shot. Tidak banyak variasi yang bisa dilakukan pada obyek iconic tersebut. Contohnya, Candi Borobudur.
Sulit untuk mendapatkan variasi angle yang berbeda sama sekali dengan yang pernah diambil oleh fotografer lain, apalagi dari ke-empat sudutnya, yang kira-kira begitu-begitu saja. Kecuali mungkin, bila kita memotret Candi Borobudur dari atas bukit. 
 

**When you do your research, do you have other reference besides Getty Images?

Saya banyak melihat foto-foto Destinations, Travel and Leisure, National Geographic Traveler.
NYTimes Travel juga bagus, karena perpaduan yang apik dari foto travel dan foto jurnalistik.
 

**Technically speaking, what exactly that makes a good travel photography?

Foto-foto travel yang bagus, bisa terlihat sekali stylenya, dari karakter Depth of Field foto-fotonya, dan warna black di foto-foto mereka yang tidak terlalu pekat. Hal ini bisa dilihat di histogramnya, dimana black pointnya tidak boleh 0, jadi bagus kalau nanti dicetak di majalah yang background nya hitam juga.¬†(see reference “professional digital compositing : essential tools and techniques“).¬†
Ya, saya juga tahu prinsip itu dari Getty Images. Mereka punya aturan bagi kontributor stock photo, black point foto-fotonya tidak boleh 0, sedangkan highlightnya (white) tidak boleh di 255. Jadi saat edit, dibuat satu layer di atasnya, dimana black pointnya di taruh di 3, dan whitenya di 252. 

The whites are not too white.. The black isnt pitch black.

 
Untuk urusan teknis fotografi dalam memotret travel, kita bisa mempertimbangkan untuk mengaplikasikan teknik HDR (High Dynamic Range imaging). Asal foto yang dihasilkan dengan menggunakan teknik HDR itu, hasilnya mendekati pencahayaan aslinya. Bukan semata-mata menerangi yang bagian gelap dalam foto atau sebaliknya.
Jangan sampai, misalnya, menggelapkan langit dengan HDR malah hasilnya jadi ke-ungu-an. Beda dengan warna aslinya.
Kami di NG juga menggunakan HDR, tapi disesuaikan dengan warna-warna aslinya. Karena HDR digunakan untuk mengatasi keterbatasan kamera, dimana dalam satu frame foto tidak selalu bisa mendapatkan hasil foto yang sempurna pencahayaannya bila kontras pada shadow dan bagian terangnya terlalu tinggi. 
Kecuali bila anda seorang fotografer yang kaya dan mampu memiliki filter mahal dan bagus untuk mengatasi kondisi pencahayaan tertentu saat memotret. Tapi kan tidak semua orang mampu untuk itu. Jadi salah satu caranya ya menerapkan teknik HDR dalam memotret. 
Tapi menurut saya, ada keuntungannya juga kita tidak bergantung pada filter mahal.
Seperti NG yang sangat memperhitungkan logika cahaya, tidak akan membuat kesalahan kecil yang bisa dilakukan fotografer manapun dengan filternya itu. Contoh, pada foto yang langitnya gelap, tapi di refleksinya, justru langitnya terang. Yang namanya refleksi kan selalu lebih gelap.
Detail seperti itu yang NG selalu perhatikan dalam menerapkan HDR di foto-fotonya.
 

**So tell us about your shooting process in Taipei

Seperti yang tadi saya katakan, pertama-tama saya melakukan riset, dan memberikan ke klien, daftar obyek-obyek foto yang akan saya ambil selama saya di sana. Misalnya, Taipei 101 di pagi hari dan sebagainya.
Sementara untuk saya sendiri, saya pegang yang namanya shoot list. Daftar detail eksekusi foto tentang obyek apa-apa saja yang akan saya foto, kapan dan bagaimana saya menuju ke tempat obyek foto tersebut, akan difoto dari angle mana, dan siapa contact person yang harus saya hubungi. 
Lalu tahap selanjutnya menentukan icon yg akan difoto. Biasanya arsitektur. Kalau di kota-kota besar, iconnya gedung tinggi, seperti Taipei 101.
Kalau tidak salah, menurut Barry Kusuma, ada tiga rumus “tur” penting dalam travel photography, culture (daily life), arsitektur dan nature (landscape). Rumus ini juga sangat berlaku di stock-photography. Foto yang diserahkan ke klien, akan dianggap komplit, kalau sudah memenuhi tiga rumus itu.¬†
 
Salah satu foto Taipei 101 yang berhasil saya foto dan rasanya belum saya temukan di stok foto gedung ini, adalah ;
 

When you look around carefully from where you standing, you can get nice image as well.

 
Kebetulan pas di depan penginapan saya, pemandangannya terlihat seperti itu. Malam ketika sampai di Taipei, kita diberitahu oleh orang di sekitar penginapan, yang namanya Taipei 101 yang itu. Lalu saya pikir, pasti paginya keren nih. Tapi karena besok paginya masih mendung, terpaksa saya tunggu sampe pagi lusa nya. 
 
Tapi perlu diingat, walaupun kita perlu menghindari foto-foto klise, kadang-kadang foto klise itu juga diperlukan dan sayang juga kalau kita tidak punya.
Misalnya, kita ke Taj Mahal, masa sih kita tidak sempatkan foto Taj Mahal dengan refleksinya di kolam?
Lagipula kita juga harus punya foto “aman” karena kita memotret untuk keperluan klien, meski begitu, kita harus selalu berusaha agar sedikit beda.
Ada caranya supaya motret foto-foto yang klise itu agar sedikit beda.
Misalnya bromo, kita foto vertikal yang ada pohonnya, itu satu, lalu geser 5 langkah, foto lagi kali ini dengan langit di frame, lalu di zoom in, pake asap. Jadi, 2011 fotonya bisa dijual ke A, 2012 dijual ke B, 2013 dijual ke C. Begitu caranya motret stock photo..
Ya, contohnya pada foto ini ;

Take a simple image with certain approach.

Menurut saya, foto ini mirip dengan foto promo Taipei, dimana semua orang punya foto seperti itu.
Tapi yang membedakan, saya motret siang-siang dengan filter ND yang sangat gelap, dan memungkinkan saya untuk set up kamera dalam slow speed, meskipun memotret di siang hari. Hasilnya, bisa buat awannya jadi terlihat bergerak. Karena dengan filter itu bisa turun sampai 12 stop, saya pun bisa memotret dalam mode bulb selama 3 menit, menggunakan remote, di siang yang terik. Saya berpikir untuk membuat kesan bergerak pada awannya, karena saat itu, awannya terlihat kurang bagus dan rasanya lebih baik dibuat slow speed, semacam time lapse.
 
Biasanya, saat riset dan melihat foto-foto Taipei yang sudah ada di Internet, saya berusaha dapat gambaran, dimana-mana saja spot terbaik untuk memotret. 
Bahkan kalau bisa, saat riset kita sudah ada gambaran gedungnya menghadap kemana, bisa pakai GPS untuk itu.
Ya, karena memang sangat berpengaruh. Ketika kita belum mengenal lokasi dan memotret, hasilnya akan beda. 
Perlu juga antispasi waktu dengan datang lebih awal. Misalnya bila kita akan memotret matahari terbit, beberapa jam sebelumnya kita harus sudah di spot memotret.
Saya jarang shoot and kill, datang, memotret dan selesai. Bahkan kalau memungkinkan, saya akan memotret di tempat yang sama, berulang kali sampai dapat foto yang diinginkan.
Untungnya, seperti di Taipei kemarin, sama seperti Singapura. Gampang ke mana-mana jadi bisa balik lagi ke beberapa tempat yang sama untuk memotret lagi.
Biar tidak bosan datang ke tempat yang sama untuk memotret, ganti timing memotretnya.
Satu waktu datang siang, lain waktu datang malam, jadi bervariasi dan keluar warna yang beda.

Fadli came to this place a couple of times to get the shot he wants.

Dan kalau kita ingat bahwa kita motret ini ada uangnya, jadi tidak akan males atau bosan.
Kalau hujan malah tetap mau motret, malah justru mencari spot yang kalau motret hujannya bagus, difoto dengan slow speed misalnya.
 
Satu hal yang saya hindari dalam memotret travel adalah menyesal belakangan.
Jangan sampe saya tiba-tiba ingat ada hal yang kurang dan menyesal kenapa tidak motret di angle a atau b.
Itulah sebabnya, sebagai pengingat, kita punya shoot list.
Sesampainya kita di tempat, bisa tenang dulu sebentar baru mulai memotret, karena kan sudah punya shoot list dan merencanakan dengan matang akan memotret apa.
Travel photography memang tidak enak kalau diburu-buru.
 
Tapi meski demikian, unsur surprise walaupun sudah riset, tetap perlu. Jadi walaupun sudah punya gambaran akan tempat itu, karena ada elemen surprise nya jadi merasa, oh ternyata begini ya. 
Expecting the Un-expected. Seperti contoh foto gedung Taipei 101 ini ;

Expecting the unexpected. But luck is only for those who are prepared.

Foto itu adalah salah satu contoh foto yang un-expected.
Dalam perjalanan pulang, kami melewati satu sekolah yang ada anak-anak bermain basket. Ketika saya lihat, rasanya akan bagus kalo jadi foreground untuk framing gedung tersebut. 
 
Kalau memang tempat yang kita kunjungi tidak ada icon, kita bisa memotret detail dan portrait. Sebagai contoh, saat kita akan memotret perkebunan teh, jangan hanya foto overall perkebunan tehnya, tapi juga detail seperti tangan yang pegang teh.
Kita harus ingat, karakter foto editorial dengan foto penugasan travel ini, beda.
Kita akan perlu memotret beberapa foto yang sepintas terlihat simpel.
Secara fotografi jurnalistik, foto-foto sederhana itu mungkin akan terlewat karena tidak terlalu bernuansa jurnalistik, tapi kalau di layout, hasilnya bisa sangat menarik. Apalagi yang termasuk dalam foto-foto stock. Seperti contohnya dua foto yang sudah di lay out ini ;

Composite images for better lay out, from simple images.

Karena dalam memotret travel itu, kita sudah harus berpikir secara desain.
Misalnya kita diberi tahu oleh editor, nanti akan ada foto yang dibuat spread horizontal. Tips nya : saat kita cari foto yang akan disesuaikan dengan desain, obyek yang menjadi point of interest jangan ditaruh pas di tengah foto, karena kalau spread, nanti bisa terpotong di tengah halaman.
Tidak perlu langsung terapkan rule of third juga sih, cukup geser point of interest nya agak di luar area tengah foto.
Lalu untuk motret detail, misalnya tangan yang memegang teh di perkebunan teh, jangan difoto benar-benar tight hanya tangannya saja, tapi kasih space juga, sehingga nanti ketika di layout oleh orang desain bisa dikasih tulisan.
Jangan lupa buat foto yang vertikal dan horisontal.
 
Makanan juga masuk ke dalam shoot list, selain icon itu.
Khusus untuk Taipei ini, saya juga harus buat foto untuk review resto. Untungnya bisa motret di dapur restorannya, jadi tidak hanya dapat suasana pengunjung restoran.

"Behind the scene" of food photos.

Sebenarnya sekarang saya sedang belajar buat foto makanan yang menarik dengan available light yang hanya mengandalkan penataan makanan dan angle pengambilan foto.
Biasanya fotografer yang memotret seperti itu, gunakan tenaga food stylist, dan tidak pake lighting lagi.
Lalu misalnya, sebagian makanan juga sudah ada yang dimakan, biar terlihat real.
Saya juga sedang belajar itu, tapi tetap gunakan additional lighting walaupun minimal, jadi masih terkesan natural.
Hal ini supaya ada sensasi bagi pembaca, dengan melihat foto yang terlihat natural di tempat makan yang di foto, bahwa mereka juga bisa makan di situ. Sedangkan kalau difoto terlalu apik dan sangat bernuansa studio, makanan itu jadi seperti makanan brosur saja.
Meski begitu, motretnya harus tetap dengan kualitas motret foto makanan brosur lah. Yang bagus, bersih dan tidak berantakan.
Jadi intinya, tetap di foto di tempat aslinya makanan itu berasal, tapi tetap ditata yang apik.
Sebenarnya kalau mau bikin foto makanan dengan background putih, gampang. Foto saja makanannya dengan settingan over setengah sampai satu stop dengan background yang terang, jadi backlight. Apalagi kalo makanannya warnanya gelap, jadi lebih oke.
Sedangkan kalau warna makanannya terang agak sulit kalau difoto dengan background terang karena akan berbaur dengan foregroundnya.
Jadi, sebaiknya motret makanan yang warnanya terang dengan background yang gelap, karena akan pas dengan sendirinya.
Lalu pake bukaan besar, supaya banyak blurnya.  
 

**What else should we remember if we want to be a travel-photographer ?

Pokoknya hal terpenting setelah riset adalah kita harus bertanya ke orang lokal, karena mereka lebih tahu dan biasanya mereka punya cerita-cerita unik.
Apalagi untuk 12 destinasi ini, saya juga harus menulis. Biasanya tulisan yang tidak ada obrolan dengan orang lokalnya akan terasa hambar, makanya saya coba masukkan percakapan saya dengan orang lokal itu dalam tulisan.
Enaknya sih, hanya memotret, karena terkadang konsentrasi memotret jadi terpecah karena saya juga harus menulis.
Pengalaman di Taipei, ada satu hari dimana cuaca begitu bagusnya, tapi dihabiskan justru untuk wawancara.
Narasumber mengajak saya naik motor seharian keliling Taipei. Tapi karena dia bukan fotografer, agak sulit. Misalnya ketika saya memotret terlalu dekat, dia merasa kurang nyaman. Jadi saya hanya sedikit memotret. Tapi ada beberapa foto yang sifatnya detail, justru baru bisa ketemu karena saya banyak ngobrol dengan orang lokal.
Untungnya lagi, banyak cerita dari dia yang bisa dijadiin bahan tulisan. Tulisan pun bisa jadi hidup, seperti yang dilakukan Paul Theroux di the Tao of Travel. Agustinus Wibowo sepertinya terpengaruh dari Paul Theroux itu dalam bukunya, karena gaya bertuturnya yang kental.
Selain itu, saya bisa tahu lokasi-lokasi yang tidak terlalu turistik.
Seperti di Taipei kan ada pasar malam Shilin, yang ternyata isinya turis semua karena sudah masuk Lonely Planet.
Segala sesuatu tentang Shilin night market sudah ditulis semua di mana-mana, padahal masih ada pasar malam yang lebih bagus dan lebih berwarna yang didatangi orang lokal dan terasa lebih hidup, walaupun mungkin agak lebih kotor.
Akhirnya, saya menulis tentang night market lain dan bukan tentang Shilin lagi. 
 
Lalu sekarang, saya punya kebiasaan baru, yaitu membuat foto panorama, terutama untuk foto-foto icon. 
 
Dan satu lagi, saya sedang mencoba membiasakan memotret dengan angle foto yang lebih banyak. 
 
 
Menurut saya, memotret dengan banyak angle itu sudah menjadi kewajiban. Misalnya ketika memotret di pantai, ada angle-angle yang sudah wajib dalam stock photography. Satu shot yang suasana pantai, shot selanjutnya dengan memasukkan pohon ke dalam frame, shot selanjutnya yang orang lewat, belum lagi struktur pasirnya yang rata dan miring. 
Metode memotret yang saya terangkan sebelumnya, selalu saya terapkan walaupun bukan dalam assignment. Karena sejak setahun belakangan ini, mind set saya sekarang sudah berusaha membangun stock photography.
 

**What equipments that you usually bring during assignment?

Kamera yang saya pakai, 5D MarkII, lensa 24-70mm, lensa 20 mm 1.4 untuk portrait dan makanan.
Saya juga pernah gunakan 50 mm 1.4 untuk landscape, misalnya motret patung dengan background yang ngeblur.
Lalu saya selalu bawa tripod, ballhead dan cable release.
Tapi dalam memilih tripod, juga harus hati-hati, karena walaupun kameranya bagus, tapi kalau tripodnya jelek, baru di set 30 detik saja bisa goyang karena tripodnya tidak steady. Dan tripod yang jelek, kalau jatuh bisa patah.
 

 **Any favorite picture from your trip to Taipei?

Shoot through glass.

Saya suka foto ini karena dapat sensasi saya memotretnya dari luar. Tidak terlihat kalau saya memotret di kaca dari dalam ruangan.
Tips untuk memotret di kaca, agar terlihat bening sehingga tidak ada refleksi sama sekali ;  lensa jangan pakai hood, lalu tempel lensa di kaca dan pastikan area belakang kita itu warnanya gelap.
Di sekeliling lensa pun kalau perlu di tutup dengan tangan atau jaket, supaya tidak bocor oleh refleksinya.
 

**Anything else you want to add?

Ya, kadang yang menyebalkan dalam urusan memotret travel itu, karena terlalu konsentrasinya kerja, kita lupa beli oleh-oleh. Bingung juga mau beli apa.
Padahal, membelikan oleh-oleh ke klien itu perlu loh. Jadi semacam pengingat biar klien tidak lupa kita kalau butuh suatu obyek yang kita foto, suatu hari nanti. (*wink wink)
 

 **How do you feel about your work in Taipei?

Sebenarnya saya menjadwalkan pergi ke Taipei untuk memotret festival lampion di malam pertama saya sampai. Tapi karena ada kesalahpahaman dalam hal visa, saya jadi terlambat sampai di Taipei dan kehilangan kesempatan untuk motret itu. Tapi secara keseluruhan, saya tergolong puas untuk hasil-hasil yang saya dapat dalam liputan Taipei kali ini.
 

Damn… You know something? After spending an afternoon with them and for once, be a good listener, I could only say one thing to my self. “You think you knew.. But you have no idea..”

You’re a fool, if you ever think being a photographer is just a matter of click click and having fun.

Advertisements

Written by nickmatulhuda

April 9, 2012 at 10:23 am

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Nuwunsewu, izin menorehkan komen pertama dari posting ini. pertama-tama saya merasa tersanjung karena ocehan saya ada yang merekam, kedua saya tersinggung karena dari rekaman semakin banyak yang sadar saya not really pretty :p

    Dengan segala kerendahan hati, saya ingin meluruskan ttg “HDR di NG”. Seingat saya pada obrolan itu saya menyebut HDR dalam konteks “foto HDR juga diterima dalam kontes foto NG(-US)” dan di peraturan lomba foto tsb dicantumkan peraturan pembatasan jenis foto HDR yg diterima. Kalau selama saya bergabung di NGI, saya belum pernah menemukan kebutuhan untuk pemakaian foto HDR. Saya sendiri bukan ahli foto HDR, tapi kalau memang benar teknik HDR itu dipakai untuk dengan tujuan meningkatkan dinamisasi foto dari sisi rentang cahaya dan warna, maka tujuan tersebut juga saya coba capai dalam pengerjaan foto saya. Tapi tidak dengan teknik HDR, melainkan dengan tools standar di peranti lunak Adobe Camera Raw dan Photoshop seperti: brightness-contrast, shadows-highlights, hue-saturation-lightness dan adjusment tools lainnya. Hal ini dilakukan semata untuk tujuan memaksimalkan hasil cetak di majalah. Jadi pengerjaannya tetap memperhatikan dengan sangat logika fotografinya, enhancing not altering.

    Tapi secanggih-canggihnya teknologi post processing, pada fotojurnalistik (dokumenter, juga travel) teuteup faktor paling pentingnya (seperti yang kita semua ketahui) ya di matangnya perencanaan liputan, intuisi mengabadikan momen, dan kedalaman penyusunan cerita… ūüôā

    matur nuwun, tabik. Fid

    @hafidznovalsyah

    April 9, 2012 at 3:02 pm

    • dear readers,

      first of all.. this blog post and any other posts here, are not intended to show the right and wrong about any subject. mostly they are perspectives about certain things.

      when writing interviews, i try to be very accurate. thats why i taped the conversation in videos. but of course, i might made wrong perception on certain answers. this is how the comment section actually works.

      thank you hafidz, for straightening things right. ūüôā

      besides, HDR would take a whole other post if we want to know about it further. next time, we’ll have the HDR expert to explain it to us. mean while, we mention HDR in this post to let people know that this kind of technique can give you better chance to make better picture. and just by using this technique, not necessarily means your work isnt “original” for using a certain technique. besides Dean Collins once said, “anybody who says that photography is 95 percent feeling and five percent technique is a coward”.

      nickmatulhuda

      April 9, 2012 at 6:12 pm

  2. Tantangan bagi kita selaku fotografer perjalanan bukan ada pada saat mendatangi tempat2 baru. Melainkan tempat yang telah sering kita datangi dan akrabi budayanya. Bagaimana untuk selalu menemukan sudut menarik dan tidak mengulang dari apa yang pernah kita buat. Saat menjadi pencerita (fotojurnalis atau fotografer perjalanan) penting untuk selalu menjadi orang yang ‘gumunan’ dan penuh rasa ingin tahu.

    toto santiko budi

    April 9, 2012 at 5:44 pm

    • kata baru tuh “gumunan”.. hoho… anyone care to elaborate? ;p

      nickmatulhuda

      April 9, 2012 at 6:14 pm

      • Gumun (kagum, jawa). Jadi orang yg gumunan bisa diartikan sebagai orang yg jika melihat sesuatu yg baru ia lihat serasa wah banget (meskipun dimata orang lain itu biasa). Contohlah orang daerah yg ke Jakarta pasti ingin ke Monas dan kagum dengan kemegahannya, beda dengan orang Jakarta yang biasa lalu lalang melewati Monas.

        Sepakat dengan hafidz yang mengatakan jika foto perjalanan harus memperhatikan matangnya perencanaan liputan, intuisi mengabadikan momen, dan kedalaman penyusunan cerita serta ketenangan berpikir di tempat yg disinggahi. menjadi turis yg selalu ingin tahu penting sekali ūüėČ

        aliepodja

        April 9, 2012 at 10:05 pm

      • menarik! saya pun waktu denger hafidz dan fadli ngoceh, gumun banget.. orangnya sih biasa.. yang diomongin itu loh.. bikin ow… ha?? ow… masa?? ya ampyun.. hehe.. suwun mas..

        nickmatulhuda

        April 10, 2012 at 7:21 am

  3. You mean it’s not fun? I kind a like it when it ‘clicks’.

    Rio Helmi

    April 10, 2012 at 6:16 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: