nickmatulhuda blog

have a look at www.nickmatulhuda.com, and have a say here

Am a Photographer (dot)

leave a comment »

A word of advice that I have been trying my best -myself- to continue doing :

Dont get used to saying “am a female photographer..” just say “am a photographer”. Dont let the world knows you by gender first, then your work.

This piece of note in Bahasa, is my way of sharing my perspective to my friends and colleagues in photography who happens to be females. It’s written in Bahasa Indonesia, because my message is specifically to my fellow Indonesians. But if you care enough and really want to know what am trying to say here, Google Translate should be able to help you.

**

Suatu sore di Goethe Haus, seorang pewarta foto muda berbakat hanya menegur sekedarnya saat saya menghampiri untuk memberi salam. Di akhir percakapan yang sarat dengan basa-basi, dengan penuh pertimbangan dia menyatakan, “Menurut gue, profesi ini ga cocok buat perempuan. Bukan apa-apa, gue kasihan aja, cewe harus gotong-gotong peralatan yang berat kaya kamera. Mending cari kerjaan lain aja deh.” Saat itu saya hanya melongo mendengarnya. Speechless.

Walaupun saya belum puluhan tahun menjadi pewarta foto, tapi pendapat itu cukup sering saya dengar. “Apa sih, yang mau lu buktiin?” biasanya itu inti pertanyaan yang diajukan. Sayangnya, saya tidak mampu memberi penjelasan yang akan pernah cukup. Akhirnya saya hanya bisa tertawa.

Meskipun isu diskriminasi gender masih santer terdengar dalam profesi ini, saya cukup beruntung karena tidak pernah merasakannya. Atau mungkin saya saja yang terlalu bebal untuk merasakan itu kalaupun memang ada. Saya justru sering merasa beruntung dengan menjadi fotografer yang berjenis kelamin perempuan.

Ada beberapa tempat yang akan lebih mudah bila diakses perempuan. Rasa “tidak enak hati” untuk menolak perempuan juga sering saya manfaatkan. Modal tampang bloon dan letih karena menggotong-gotong kamera yang berat, kadang sangat bermanfaat. Menjadi manipulatif tidak selalu negatif.

Memang ada oknum di antara teman-teman fotografer yang tidak tahu caranya menghargai perempuan. Tapi biasanya, orang itu juga tidak tahu cara menghargai orang lain pada umumnya. Jadi karena kebetulan saat itu yang tidak dia hargai adalah perempuan, isunya jadi lebih sensitif.

Lima tahun saya bekerja di Koran Tempo dan atasan saya selalu memberi porsi liputan yang sama dengan teman sekantor saya yang pria. Demo hayuk, fashion show oke. Toh, secara estetika, foto itu hanya dinilai bagus atau tidak. Dan selama ini, setahu saya, tidak ada penelitian ilmiah yang menyimpulkan, hasil foto perempuan dan pria berbeda secara signifikan. Cara pendekatan kepada obyek foto, tidak jauh berbeda. Bahkan kadang teman fotografer pria ada yang lebih manis meminta obyeknya bergaya saat foto profil, dan hasilnya oke. Cara melihat obyek atau event dengan angle yang beda dan menarik, adalah buah pengalaman, bukan urusan buah dada. :p

Selama bertugas sebagai pewarta foto harian saat masih menjadi stringer Tempo, saya malah mendapat banyak kemudahan dari teman-teman pewarta foto yang berjenis kelamin laki-laki. Tidak jarang saat foto rebutan, mereka malah melindungi saya agar tidak tergencet. Kadang malah terlalu mendramatisir dan menggunakan momen saya jatuh untuk cari ribut dengan petugas keamanan. Semua saya nikmati. Bukan hanya karena nama saya Nickmatulhuda… hehe..

Saat ini saya melihat cukup banyak perempuan muda yang memulai karirnya menjadi photojournalist, alias pewarta foto. Sekedar sharing, saya hanya mengingatkan, selama enjoy menjadi pewarta foto, teruslah berkarya dengan sebaik-baiknya. Jangan down kalau ada yang bilang, “Lu perempuan siiih..” dan jangan juga berlindung dibalik alasan, “Kan gue perempuan..”

Be fair. Menurut saya, profesi ini adalah profesi yang murni dinilai dari karya-karya yang kita hasilkan. Prestasi membuat posisi orang tidak terbantahkan. Apapun bentuknya. Tapi jangan jadikan hasil sebagai tujuan. Cara kita menghadapi proses yang harus kita lewati, adalah indikator kita untuk mengukur kesuksesan. Lihatlah beberapa contoh pewarta foto senior seperti Enny Nuraheni dan Adek Berry. Mereka banyak kerja sedikit bicara, dan dihormati oleh kalangan pewarta foto baik di Indonesia maupun Internasional.

Lalu, bernafaslah lega karena etika dalam foto jurnalistik, tidak dilihat dari etika berpakaian. Silahkan menggunakan tank top dan rok semini-mininya asal merasa nyaman saat memotret dan beraktifitas sebagai pewarta foto. Saya pernah menghadiri sebuah forum dengan Lisa Botos (mantan photo editor TIME) sebagai pembicara. Saat itu, dia duduk di depan dengan baju tipis, menerawang dan tanpa bra. Ngga ada tuh yang cerewet atau berani kurang ajar di forum itu. Bukan hanya karena teman-teman fotografer adalah orang santun yang maklum dengan budaya barat yang anggap itu hal biasa, tapi juga karena posisi Lisa Botos yang saat itu penting di mata peserta forum.

Jadilah diri sendiri. Tapi jangan sampai hanya sensasi yang melekat di identitas kita. Karya-karya foto adalah yang menjadi KTP kita di dunia foto jurnalistik. Dan menjadi perempuan hanyalah kebetulan yang menyenangkan. Bahkan, dengan banyaknya fotografer yang berjenis kelamin perempuan, akan membuat dunia foto jurnalistik Indonesia menjadi lebih berwarna. Karena teman-teman pria hanya mampu pakai kaus hitam, sementara yang perempuan bisa pede abis dengan baju pink, kuning cerah, merah merona, ataupun biru lembut. 🙂

**

This article is also published in Seribu Kata. A website organized by four Indonesian photographers, Irham, Roni, Dita and Emye, to promote the works of Indonesian Photojournalists.

Advertisements

Written by nickmatulhuda

April 22, 2011 at 6:44 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: